Jangan terlalu kasar saat membersihkan wajah

Membersihkan wajah adalah langkah penting dalam perawatan kulit sehari-hari, namun, penting untuk tidak terlalu kasar saat melakukannya. Berikut adalah beberapa alasan mengapa Anda sebaiknya tidak terlalu kasar saat membersihkan wajah:

  1. Iritasi Kulit: Membersihkan wajah dengan terlalu kasar dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Gesekan yang kuat atau keras dapat mengiritasi kulit sensitif dan menyebabkan kemerahan, gatal, atau bahkan terasa terbakar.
  2. Merusak Lapisan Pelindung Kulit: Kulit wajah memiliki lapisan pelindung yang tipis dan sensitif. Membersihkan wajah dengan terlalu kasar dapat merusak lapisan ini, membuat kulit menjadi lebih rentan terhadap iritasi, infeksi, dan masalah kulit lainnya.
  3. Menyebabkan Pembengkakan dan Peradangan: Teknik membersihkan wajah yang terlalu kasar dapat menyebabkan pembengkakan dan peradangan pada kulit. Hal ini dapat membuat kulit terlihat bengkak dan merah, serta membuat Anda merasa tidak nyaman.
  4. Mengiritasi Jerawat: Jika Anda memiliki jerawat, membersihkan wajah dengan terlalu kasar dapat membuat kondisinya menjadi lebih buruk. Gesekan yang kuat atau keras dapat memperburuk peradangan dan merusak jaringan kulit di sekitar jerawat, menyebabkan bekas luka atau peradangan yang lebih parah.
  5. Meningkatkan Produksi Minyak: Membersihkan wajah dengan terlalu kasar dapat merangsang kelenjar minyak untuk memproduksi lebih banyak minyak, sebagai respons terhadap iritasi dan peradangan. Hal ini dapat menyebabkan kulit menjadi lebih berminyak dan memperburuk masalah kulit seperti jerawat atau komedo.
  6. Mengurangi Kebutuhan Hidrasi Kulit: Membersihkan wajah dengan terlalu kasar dapat menghilangkan kelembapan alami dari kulit, menyebabkan kekeringan dan dehidrasi. Kulit yang kering cenderung memproduksi lebih banyak minyak untuk mengkompensasi kehilangan kelembapan, membuat kondisi kulit menjadi lebih buruk.
  7. Mengurangi Efektivitas Produk Perawatan Kulit: Jika Anda menggunakan produk perawatan kulit setelah membersihkan wajah, membersihkan wajah dengan terlalu kasar dapat mengurangi efektivitas produk tersebut. Gesekan yang kuat atau keras dapat menghapus produk dari kulit sebelum mereka memiliki kesempatan untuk meresap dan memberikan manfaatnya.

Untuk membersihkan wajah dengan benar, gunakanlah teknik yang lembut dan hati-hati. Gunakan pembersih wajah yang cocok dengan jenis kulit Anda, dan gunakan ujung jari atau spons yang lembut untuk mengaplikasikannya ke wajah dengan gerakan melingkar yang lembut. Hindari menggunakan kain atau spons yang kasar, dan bilas wajah Anda dengan air hangat, bukan air panas, untuk menghindari dehidrasi dan iritasi kulit. Dengan memperhatikan teknik membersihkan wajah yang lembut dan hati-hati, Anda dapat menjaga kulit tetap bersih, sehat, dan bebas dari iritasi.

Gejala depresi kronis bisa terus menetap setelah Anda sembuh

Gejala depresi kronis bisa terus menetap setelah Anda sembuh dari episode depresi akut atau setelah menjalani perawatan yang tepat. Meskipun depresi sering kali dapat diobati dan gejalanya dapat mereda dengan waktu dan perawatan yang sesuai, ada beberapa kasus di mana gejala depresi tetap ada atau kembali muncul meskipun individu telah sembuh secara klinis. Ini bisa menjadi pengalaman yang menantang dan membingungkan bagi individu yang mungkin berharap untuk pulih sepenuhnya dari depresi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Gejala Depresi Kronis:

  1. Kerentanan Genetik: Faktor genetik dapat memainkan peran dalam mendorong seseorang terhadap risiko depresi kronis. Jika ada riwayat keluarga dengan depresi kronis, individu tersebut mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami episode berulang atau gejala yang persisten.
  2. Stresor Lingkungan: Lingkungan yang stresor, seperti tekanan pekerjaan, masalah hubungan, atau peristiwa traumatis, dapat memicu atau memperburuk gejala depresi kronis. Bahkan setelah pemulihan dari episode depresi akut, stresor lingkungan yang persisten dapat membuat seseorang rentan terhadap gejala yang kembali muncul.
  3. Kondisi Kesehatan Mental Komorbid: Depresi sering terjadi bersamaan dengan kondisi kesehatan mental lainnya, seperti gangguan kecemasan atau gangguan kepribadian. Kondisi komorbid ini dapat membuat pengelolaan depresi menjadi lebih rumit dan meningkatkan risiko gejala yang persisten.
  4. Perubahan Kimia Otak: Perubahan dalam kimiawi otak, termasuk ketidakseimbangan neurotransmitter seperti serotonin, dopamine, dan norepinefrin, juga dapat berkontribusi pada gejala depresi kronis. Bahkan setelah pemulihan dari episode depresi akut, perubahan kimia otak ini dapat mempengaruhi mood dan fungsi kognitif seseorang.

Dampak Psikologis dan Emosional:

Gejala depresi kronis yang tetap ada atau kembali muncul dapat memiliki dampak psikologis dan emosional yang signifikan. Ini dapat menyebabkan perasaan putus asa, kelelahan, kehilangan minat atau kegembiraan dalam aktivitas sehari-hari, dan isolasi sosial. Individu yang mengalami depresi kronis juga mungkin mengalami perasaan rendah diri atau kecemasan yang berkelanjutan.

Pengelolaan Gejala Depresi Kronis:

Meskipun gejala depresi kronis dapat menetap atau kembali muncul, ada berbagai strategi pengelolaan yang dapat membantu individu dalam mengatasi dampaknya dan meningkatkan kualitas hidup. Ini termasuk terapi kognitif perilaku (CBT), terapi interpersonalis (IPT), obat-obatan, dukungan sosial, olahraga teratur, teknik relaksasi, dan gaya hidup sehat secara umum.

Pentingnya Dukungan dan Perawatan Lanjutan:

Penting bagi individu yang mengalami gejala depresi kronis untuk mencari dukungan dari profesional kesehatan mental, teman, dan keluarga. Dengan perawatan yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka dapat belajar mengelola gejala, meningkatkan kesejahteraan mereka, dan membangun keterampilan untuk menghadapi tantangan yang mungkin muncul di masa depan.

Hati-Hati! Ini Bahaya Ibu Kelamaan Duduk saat Hamil

Hamil adalah waktu yang penting untuk memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan, termasuk dalam hal aktivitas fisik dan gaya hidup. Duduk terlalu lama bisa menjadi kebiasaan yang berbahaya selama kehamilan, karena dapat meningkatkan risiko beberapa masalah kesehatan. Berikut adalah beberapa bahaya dari duduk terlalu lama saat hamil yang perlu diperhatikan:

  1. Peningkatan Risiko Trombosis Vena Dalam: Duduk terlalu lama, terutama dalam posisi yang tidak bergerak, dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah atau trombosis vena dalam (DVT). Ini terutama berlaku jika duduk dalam posisi yang tidak alami atau kaki Anda terjepit, yang dapat menghambat aliran darah ke kaki dan panggul. DVT adalah kondisi serius yang membutuhkan perhatian medis segera.
  2. Peningkatan Risiko Varises: Varises adalah pembengkakan dan perluasan pembuluh darah yang sering terjadi pada kaki. Duduk terlalu lama dapat memperlambat aliran darah kembali ke jantung, menyebabkan tekanan darah dalam pembuluh darah meningkat dan memperparah varises. Wanita hamil cenderung lebih rentan terhadap varises karena perubahan hormon dan peningkatan volume darah.
  3. Tekanan pada Punggung Bawah: Duduk terlalu lama, terutama dalam posisi yang tidak ergonomis, dapat menyebabkan tekanan berlebih pada punggung bawah dan tulang belakang. Ini dapat menyebabkan nyeri punggung yang kronis atau memperburuk keluhan punggung yang sudah ada.
  4. Penurunan Aliran Darah ke Janin: Duduk terlalu lama dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke janin karena tekanan pada pembuluh darah utama di panggul. Ini dapat mengganggu pasokan oksigen dan nutrisi ke janin, yang dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan yang sehat.
  5. Peningkatan Risiko Diabetes Gestasional: Duduk terlalu lama telah terkait dengan peningkatan risiko diabetes gestasional, yaitu diabetes yang berkembang selama kehamilan. Ini disebabkan oleh kurangnya aktivitas fisik yang dapat mempengaruhi sensitivitas insulin dan metabolisme gula darah.
  6. Peningkatan Risiko Komplikasi Persalinan: Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa duduk terlalu lama selama kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi persalinan, termasuk persalinan prematur, persalinan dengan bantuan, atau persalinan dengan caesar.

Dengan memahami bahaya duduk terlalu lama saat hamil, penting untuk mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko tersebut. Beberapa tips untuk menghindari duduk terlalu lama saat hamil meliputi:

  • Berdiri atau berjalan-jalan setiap 30-60 menit.
  • Lakukan latihan peregangan ringan untuk meningkatkan sirkulasi darah.
  • Gunakan kursi yang ergonomis dan berikan dukungan tambahan untuk punggung bawah.
  • Hindari duduk dengan kaki terlalu terangkat atau terjepit.
  • Pertimbangkan untuk menggunakan bantal atau penyangga untuk kaki dan punggung untuk meningkatkan kenyamanan.
  • Berbicara dengan dokter atau bidan Anda tentang aktivitas fisik yang aman selama kehamilan, dan ikuti saran mereka tentang bagaimana cara mengelola waktu duduk Anda.